Cermin Rias Tua
Liburan yang panjang memang selalu membiaskan cerita yang menarik, bisa menyenangkan atau
bahkan sebaliknya. siapa yang mau liburan menyenangkan harus berakhir dengan liburan yang pahit.
sejujurnya liburan kemarin telah menjadi liburan yang pahit buatku, buat aku enggan lagi untuk
mengunjungi rumah itu untuk seterusnya.
aku menghentikan mobilku yang akhirnya mengantarkanku sampai ke sebuah rumah didaerah
bandung tengah, daerah yang sepi namun dekat dengan keramaian bandung. rumah ini adalah rumah
yang dibeli oleh ayahku tujuannya untuk inventarisku kelak, karena itulah rumah ini dibiarkan
kosong. bahkan bisa dibilang tidak pernah ditempati, namun barang-barang rumah tangga seperti
tempat tidur, lemari, meja, dan kursi sudah tertata rapih. bahkan sebagian adalah barang seni dan
peninggalan keluarga, liburan ini mungkin jadi liburan yang tepat untuk aku bersantai dirumah itu
dan ini memang liburan yang aku butuhkan.
bersantai ditempat yang nyaman sambil mengerjakan tugas akhirku, setelah selesai membuat coklat
panas malam itu aku beranjak kekamar atas dan mulai mengerjakan laporan tugas akhirku.
suasananya sangat sepi, pas sekali dengan keinginanku, saking sepinya aku... merasa sendirian
dirumah itu. padahal ada mang agus penjaga rumah ini dilantai bawah, dan ketika aku sedang
berkonsentrasi mengerjakan tugasku. aku merasa terganggu... terganggu dengan cermin rias tua, tepat
berada didepan tempat tidurku... "cermin tuanya geser dikit ah, serem abisnya dekat tempat tidurku"
aku pun menggeser cermin tua tersebut, karena mengganggu... disaat aku pindahkan cermin itu dan
tiba-tiba... berhembus angin yang sangat dingin, seketika aku memegang pundak aku dan berpikir
"darimana yach asalnya angin ini, padahal jendela dan pintu sudah tertutup rapat"... namun
pemikiranku berubah ketika... ketika... selain angin dingin yang berhembus ini... aku... aku juga
mendengar suara... suara hembusan nafas seseorang... tepat dibelakang leher belakangku. seketika
bulu kudukku berdiri, suara dan angin itu membuatku merinding seluruh badan. aku pun berbalik dan
coba melihatnya... hah! tidak ada siapa-siapa... karena takut aku segera keluar dari kamar dan tidur
diruang bawah sambil menonton tv. esoknya aku mulai menelusuri rumah ini, ternyata rumah ini
lumayan besar dan aku baru tau rumah ini dihalamannya mempunyai ayunan yang nampak sekali
indah. aku pun duduk diatas ayunan itu dan melihat ke rumah ini, namun ada yang aneh, setelah aku
pikir lagi... rumah bagian depan ini nampak menyeramkan, karena balkon disebelah kamarku dilantai
atas itu dibiarkan kotor, jelek, dan berjamur. sepertinya sudah dibiarkan begitu saja sejak lama,
sedangkan sekelilingnya sudah sangat rapi. aku penasaran, balkon itu dibiarkan rusak seperti itu. saat
aku tanya mang agus yang sedang menggunting rumput waktu itu, mang agus pun tidak terlalu
banyak komentar... hanya saja, mang agus bilang "jangan terlalu lama didepan sini gak baik" begitu
kata mang agus. mang agus khawatir kalo aku diganggu pemuda daerah sini, aku yakin bukan itu
masalahnya tapi balkon rumah ini.
setelah mang agus masuk kedalam, aku pun masih duduk diatas ayunan sambil melihat balkon itu dan
setelah agak bosan aku pergi. lalu... argh, ada yang melempar batu ke arahku. aku pun menengok arah
keluar pagar... dan... argh, ada lagi yang melempar batu ke arahku "duh, siapa sih ini" ternyata
lemparan batu ini berasal dari belakang rumah, sepertinya dari arah balkon.
aku terus perhatikan balkon itu, seperti ada seseorang disana dan astaga... ada sesosok bayangan
hitam lewat begitu saja dibalkon itu... aku pun bergegas masuk kedalam rumah, lalu aku ke atas untuk
memastikan siapa yang berada dibalkon itu. setelah sampai dibalkon... aneh! tidak ada siapa-siapa.
aku mulai berpikir bahwa ada yang tidak beres dengan balkon itu, aku duduk terdiam memandangi
balkon ini sampai tiba-tiba saja... "cermin tuanya geser dikit ah, serem abisnya dekat tempat
tidurku"... dari arah kamarku, sekarang aku mendengar suaraku sendiri... aku melihat diriku sedang
memindahkan cermin tua seperti yang aku lakukan semalam, perlahan aku dekati kamarku dan aku
buka pintunya... aku melangkah masuk kekamarku... dan tidak ada siapa-siapa... aku mencoba
mengatur nafasku dan tiba-tiba kembali aku merasakan udara dingin meniup leher belakangku.
saat aku berbalik... arrgghh, tepat dipintuku berdiri... seorang wanita dengan rambut panjang hitam,
bergaun hitam dan mukanya pun hitam seperti terbakar dan yang terlihat jelas hanya sorot matanya
yang membelalak kepadaku. aku berteriak sekencangnya, seketika itu juga mang agus datang
kekamarku dan mencoba menenangkanku.
setelah kejadian itu, aku langsung menelpon ayahku dan menceritakan kejadian yang aku alami
dirumah ini, aku rasa ayah tidak mau jujur. dan setelah itu aku mendesak mang agus untuk bercerita
ada apa dirumah ini, dan akhirnya mang agus pun mau bercerita bahwa balkon itu tidak pernah
dipugar semenjak pertama kali ada. meski ada renovasi dirumah ini balkon itu tidak boleh sama
sekali disentuh atau diperbaiki.
karena itu adalah syarat agar yang ayahku punya bisa tinggal dan posisi benda dirumah ini pun tidak
boleh dipindahkan. dan mang agus pun yakin ini bermula ketika aku memindahkan posisi cermin tua
itu, yang dimana menurutnya cermin itu bukan cermin biasa, melainkan cermin dari penunggu yang
paling sakti dirumah ini.
bahkan sebaliknya. siapa yang mau liburan menyenangkan harus berakhir dengan liburan yang pahit.
sejujurnya liburan kemarin telah menjadi liburan yang pahit buatku, buat aku enggan lagi untuk
mengunjungi rumah itu untuk seterusnya.
aku menghentikan mobilku yang akhirnya mengantarkanku sampai ke sebuah rumah didaerah
bandung tengah, daerah yang sepi namun dekat dengan keramaian bandung. rumah ini adalah rumah
yang dibeli oleh ayahku tujuannya untuk inventarisku kelak, karena itulah rumah ini dibiarkan
kosong. bahkan bisa dibilang tidak pernah ditempati, namun barang-barang rumah tangga seperti
tempat tidur, lemari, meja, dan kursi sudah tertata rapih. bahkan sebagian adalah barang seni dan
peninggalan keluarga, liburan ini mungkin jadi liburan yang tepat untuk aku bersantai dirumah itu
dan ini memang liburan yang aku butuhkan.
bersantai ditempat yang nyaman sambil mengerjakan tugas akhirku, setelah selesai membuat coklat
panas malam itu aku beranjak kekamar atas dan mulai mengerjakan laporan tugas akhirku.
suasananya sangat sepi, pas sekali dengan keinginanku, saking sepinya aku... merasa sendirian
dirumah itu. padahal ada mang agus penjaga rumah ini dilantai bawah, dan ketika aku sedang
berkonsentrasi mengerjakan tugasku. aku merasa terganggu... terganggu dengan cermin rias tua, tepat
berada didepan tempat tidurku... "cermin tuanya geser dikit ah, serem abisnya dekat tempat tidurku"
aku pun menggeser cermin tua tersebut, karena mengganggu... disaat aku pindahkan cermin itu dan
tiba-tiba... berhembus angin yang sangat dingin, seketika aku memegang pundak aku dan berpikir
"darimana yach asalnya angin ini, padahal jendela dan pintu sudah tertutup rapat"... namun
pemikiranku berubah ketika... ketika... selain angin dingin yang berhembus ini... aku... aku juga
mendengar suara... suara hembusan nafas seseorang... tepat dibelakang leher belakangku. seketika
bulu kudukku berdiri, suara dan angin itu membuatku merinding seluruh badan. aku pun berbalik dan
coba melihatnya... hah! tidak ada siapa-siapa... karena takut aku segera keluar dari kamar dan tidur
diruang bawah sambil menonton tv. esoknya aku mulai menelusuri rumah ini, ternyata rumah ini
lumayan besar dan aku baru tau rumah ini dihalamannya mempunyai ayunan yang nampak sekali
indah. aku pun duduk diatas ayunan itu dan melihat ke rumah ini, namun ada yang aneh, setelah aku
pikir lagi... rumah bagian depan ini nampak menyeramkan, karena balkon disebelah kamarku dilantai
atas itu dibiarkan kotor, jelek, dan berjamur. sepertinya sudah dibiarkan begitu saja sejak lama,
sedangkan sekelilingnya sudah sangat rapi. aku penasaran, balkon itu dibiarkan rusak seperti itu. saat
aku tanya mang agus yang sedang menggunting rumput waktu itu, mang agus pun tidak terlalu
banyak komentar... hanya saja, mang agus bilang "jangan terlalu lama didepan sini gak baik" begitu
kata mang agus. mang agus khawatir kalo aku diganggu pemuda daerah sini, aku yakin bukan itu
masalahnya tapi balkon rumah ini.
setelah mang agus masuk kedalam, aku pun masih duduk diatas ayunan sambil melihat balkon itu dan
setelah agak bosan aku pergi. lalu... argh, ada yang melempar batu ke arahku. aku pun menengok arah
keluar pagar... dan... argh, ada lagi yang melempar batu ke arahku "duh, siapa sih ini" ternyata
lemparan batu ini berasal dari belakang rumah, sepertinya dari arah balkon.
aku terus perhatikan balkon itu, seperti ada seseorang disana dan astaga... ada sesosok bayangan
hitam lewat begitu saja dibalkon itu... aku pun bergegas masuk kedalam rumah, lalu aku ke atas untuk
memastikan siapa yang berada dibalkon itu. setelah sampai dibalkon... aneh! tidak ada siapa-siapa.
aku mulai berpikir bahwa ada yang tidak beres dengan balkon itu, aku duduk terdiam memandangi
balkon ini sampai tiba-tiba saja... "cermin tuanya geser dikit ah, serem abisnya dekat tempat
tidurku"... dari arah kamarku, sekarang aku mendengar suaraku sendiri... aku melihat diriku sedang
memindahkan cermin tua seperti yang aku lakukan semalam, perlahan aku dekati kamarku dan aku
buka pintunya... aku melangkah masuk kekamarku... dan tidak ada siapa-siapa... aku mencoba
mengatur nafasku dan tiba-tiba kembali aku merasakan udara dingin meniup leher belakangku.
saat aku berbalik... arrgghh, tepat dipintuku berdiri... seorang wanita dengan rambut panjang hitam,
bergaun hitam dan mukanya pun hitam seperti terbakar dan yang terlihat jelas hanya sorot matanya
yang membelalak kepadaku. aku berteriak sekencangnya, seketika itu juga mang agus datang
kekamarku dan mencoba menenangkanku.
setelah kejadian itu, aku langsung menelpon ayahku dan menceritakan kejadian yang aku alami
dirumah ini, aku rasa ayah tidak mau jujur. dan setelah itu aku mendesak mang agus untuk bercerita
ada apa dirumah ini, dan akhirnya mang agus pun mau bercerita bahwa balkon itu tidak pernah
dipugar semenjak pertama kali ada. meski ada renovasi dirumah ini balkon itu tidak boleh sama
sekali disentuh atau diperbaiki.
karena itu adalah syarat agar yang ayahku punya bisa tinggal dan posisi benda dirumah ini pun tidak
boleh dipindahkan. dan mang agus pun yakin ini bermula ketika aku memindahkan posisi cermin tua
itu, yang dimana menurutnya cermin itu bukan cermin biasa, melainkan cermin dari penunggu yang
paling sakti dirumah ini.
0 komentar:
Posting Komentar