Jumat, 25 September 2015 0 komentar By: Unknown

Because of You | Kelly Clarkson


I will not make the same mistakes that you did
Aku takkan melakukan kesalahan seperti yang pernah kau lakukan
I will not let myself
Takkan kubiarkan diriku
Cause my heart so much misery
Karna hatiku sangat sengsara
I will not break the way you did
Aku takkan patah seperti dirimu
You fell so hard
Kau jatuh begitu keras
I've learned the hard way
Aku telah belajar dengan cara menyakitkan
To never let it get that far
Agar tak sampai sejauh itu

CHORUS

Because of you
Karna dirimu
I never stray too far from the sidewalk
Aku tak pernah tersesat terlalu jauh dari jalan
Because of you
Karna dirimu
I learned to play on the safe side so I don't get hurt
Aku belajar bermain di sisi aman hingga aku tak terluka
Because of you
Karna dirimu
I find it hard to trust not only me, but everyone around me
Aku merasa sulit percaya tak hanya pada diriku, namun juga pada semua orang di sekitarku
Because of you
Karna dirimu
I am afraid
Aku takut

My Heart Will Go On | Celine Dion

 

Every night in my dreams, I see you. I feel you.
Setiap malam dalam mimpiku, kulihat diriu, kumerasakanmu
That is how I know you go on.
Itulah pertanda kutahu kau kan pergi
Far across the distance And spaces between us
Menyebrang jarak yang jauh dan jarak antara kita
You have come to show you go on.
Kau datang tuk menunjukan kau kan pergi

[Chorus]
Near, far, wherever you are
Dekat, jauh, dimanapun kau berada
I believe that the heart does go on
Aku percaya, hatimu takkan pergi
Once more you open the door
Sekali lagi kau buka pintu
And you're here in my heart And my heart will go on and on
Dan kau didalam hatiku dan hatiku akan pergi segera pergi

Love can touch us one time And last for a lifetime
Cinta kan menyentuh kita sekali saja dan membekas selamanya
And never let go till we're gone
Dan takkan perna pergi sampai kita tiada
Love was when I loved you
Cinta, saat kumencintaimu
One true time I hold to
Satu masa sejati yang terpatri
In my life we'll always go on
Dalam hidupku, kita kan terus melangkah

Back to [Chorus:]

You're here, there's nothing I fear,
Kau disini, tak ada yang perlu ditakutkan
And I know that my heart will go on
Dan aku tahu hatiku kan pergi
We'll stay forever this way
Kita kan tetap begini selamanya
You are safe in my heart
Kau kan tentram di hatiku
And my heart will go on and on
Dan hatiku kan melangkah dan pergi
Kamis, 24 September 2015 0 komentar By: Unknown

Lirik Lagu Takdir Cinta - Rossa

Ku tutup mataku
dari semua pandanganku
bila melihat matamu
ku yakin ada cinta
ketulusan hati yang mengulir lembut

Penguasa alam tolonglah pegangi aku
biar ku tak jatuh pada sumur dosa
yang terkutuk dan menyesatkan cintaku

reff:
Andaikan ku bisa lebih adil
pada cinta kau dan dia
aku bukan nabi yang bisa sempurna
ku tak luput dari dosa

Biarlah ku hidup seperti ini
takdir cinta harus begini
ada kau dan dia bukan ku yang mau
oh Tuhan tuntunlah hatiku

Penguasa alam tolonglah pegangi aku
biar ku tak jatuh pada sumur dosa
yang terkutuk dan menyesatkan cintaku


Hijrah Cinta - Rossa

Lirik lagu: Hijrah Cinta
Pada hari bulan tahun
Detik menit diriku bernafas
Ada gelombang mengerah
Memaksaku menghentikan semua

Kuhentikan kegilaan hidup
Denganmu jiwa ini terisi
Aku mencintai engkau
Begitu besar tak terbandingi

Namun bila saatnya aku harus pergi juga
Tinggalkan engkau tinggalkan semua

Hijrah cintaku menguatkan alasanku
Untuk menjadi manusia lebih baik
Namun saat sinarnya datang
Menjemputku mana mungkin aku berlari

Aku harus meninggalkan semua cinta ini
Dan bila nanti bertemu dia kumohonkan
Kembalikanlah kami satukanlah lagi
Di surgamu ya Allah

Segunung kepingan dinar
Tak bisa mengalahkan kilau cintaku
Bahagiaku melihatmu
Mampu tersenyum kalahkan getir


 SEE YOU AGAIN (OST FURIOUS 7)-WIZ KHALIFA Feat CHARLIE PUTH 

It's been a long day without you my friend
Hari terasa lama tanpa kau temanku
And I'll tell you all about it when I see you again
Dan aku akan memberitahu mu semua tentang hal itu ketika aku melihat dirimu lagi
We've come a long way from where we began
Kita telah datang jauh dari tempat kita memulai
Oh I'll tell you all about it when I see you again
Oh, aku akan memberitahu mu semua tentang hal itu ketika aku melihat dirimu lagi
When I see you again
Ketika aku melihat mu lagi

Damn who knew all the planes we flew
Sial siapa yang mengira semua pesawat yang kita tumpangi
Good things we've been through
Hal-hal terbaik yang kita pernah lalui
That I'll be standing right here
Bahwa aku akan berdiri di sini
Talking to you about another path
Berbincang dengan mu tentang jalan lain di daerah ini
I know we loved to hit the road and laugh
Aku tahu dulu kita sering melaju di jalanan dan tertawa
But something told me that it wouldn't last
Tapi ada sesuatu yang mengatakan kepadaku bahwa itu tidak akan selamanya
Had to switch up look at things different see the bigger picture
Harus beralih melihat hal yang berbeda melihat gambaran yang lebih besar
Those were the days hard work forever pays now I see you in a better place
Hari-hari yang penuh dengan kerja keras, sekarang aku melihat mu di tempat yang lebih baik

How could we not talk about family when family's all that we got?
Bagaimana bisa kita tidak berbicara tentang keluarga ketika hanya keluarga yang kita punya?
Everything I went through you were standing there by my side
Semua yang aku telah lalui, kau berdiri tegar di sisiku
And now you gonna be with me for the last ride
Dan sekarang kau akan bersama ku untuk perjalanan terakhir

It's been a long day without you my friend
Hari terasa lama tanpa kau temanku
And I'll tell you all about it when I see you again
Dan aku akan memberitahu mu semua tentang hal itu ketika aku melihat dirimu lagi
We've come a long way from where we began
Kita telah datang jauh dari tempat kita memulai
Oh I'll tell you all about it when I see you again
Oh, aku akan memberitahu mu semua tentang hal itu ketika aku melihat dirimu lagi
When I see you again
Ketika aku melihat mu lagi

First you both go out your way
Awalnya kamu berdua bertualang
And the vibe is feeling strong
Dan getaran di hatiku masih terasa kuat
And what's Small turn to a friendship
Dan yang dulunya kecil berubah jadi persahabatan
A friendship turn into a bond
Persahabatan berubah jadi ikatan 
And that bond will never be broken
Dan ikatakan itu takkan pernah patah
And the love will never get lost
Dan cinta itu takkan pernah hilang
And when brotherhood come first
Dan ketika persaudaraan didahulukan
Then the line Will never be crossed
Maka garis itu takkan pernah dilintasi
Established it on our own
Berdiri tegak sendiri
When that line had to be drawn
Saat garis itu harus ditarik
And that line is what we reached
Dan garis itulah yang tlah kita capai
So remember me when I'm gone
Maka ingatlah aku saat aku tiada

How could we not talk about family when family's all that we got?
Bagaimana bisa kita tidak berbicara tentang keluarga ketika hanya keluarga yang kita punya?
Everything I went through you were standing there by my side
Semua yang aku telah lalui, kau berdiri tegar di sisiku
And now you gonna be with me for the last ride
Dan sekarang kau akan bersama ku untuk perjalanan terakhir

So let the light guide your way
Maka biarlah cahaya memandu jalanmu
Hold every memory as you go
Kudekap setiap kenangan saat kau pergi 
And every road you take
Dan setiap jalan yang kau tempuh 
will always lead you home
Akan selalu menuntunmu pulang

It's been a long day without you my friend
Hari terasa lama tanpa kau temanku
And I'll tell you all about it when I see you again
Dan aku akan memberitahu mu semua tentang hal itu ketika aku melihat dirimu lagi
We've come a long way from where we began
Kita telah datang jauh dari tempat kita memulai
Oh I'll tell you all about it when I see you again
Oh, aku akan memberitahu mu semua tentang hal itu ketika aku melihat dirimu lagi
When I see you again
Ketika aku melihat mu lagi


Lagu Like I'm Gonna Lose You - Meghan Trainor Feat John Legend 


I found myself dreaming in silver and gold
Aku bermimpi diriku dalam emas dan perak
Like a scene from a movie that every broken heart knows
Layaknya sebuah adegan film yang setiap patah hati akan tahu
We were walking on moonlight, you pulled me close
Kita berjalan di bawah sinar rembulan, dan kau menarikku mendekat
Split second and you disappeared and then I was all alone
Sekejap saja dan kau menghilang lalu aku sendirian
Woke up in tears with you by my side
Aku terbangun dalam tangisan dengan kau di sisiku
Breath of a leave and I realized,
Menghembuskan nafas dan aku menyadari
No one will promise tomorrow
Tak satupun yang menjanjikan di hari esok

So, I'm gonna love you like I'm gonna lose you,
Jadi, aku akan mencintaimu seolah aku akan kehilanganmu
I'm gonna hold you like I'm saying goodbye
Aku akan mendekapmu seolah aku berkata selamat tinggal
Forever will stay in, I won't take you for granted
Selamanya akan tetap begitu, Aku tak bisa mengabaikanmu begitu saja
'Cause we'll never know it when we'll run out of time
Karena kita tak akan pernah kapan kita kehabisan waktu
So, I'm gonna love you like I'm gonna lose you,
Jadi, aku akan mencintaimu seolah aku akan kehilanganmu
I'm gonna love you like I'm gonna lose you
Aku akan mencintaimu seolah aku akan kehilanganmu

[John Legend]
In a blink of an eye,
Dalam sekejap mata
Just a whisper of smoke
Hanya sebuah bisikan asap
You could lose everything
Kau bisa kehilangan segalanya
The truth is you're never alone
Sebenarnya kau tak akan pernah sendirian
So, I'll kiss you longer baby
Jadi, aku akan menciummu lebih lama sayang 
Any chance that I get
Setiap kesempatan yang aku dapatkan
I'll make the most of the minutes
Aku akan memperbanyak waktuku
So long with no regret
Begitu lama tanpa ada penyesalan
Let's take our time to say what we want
Mari ambil waktu kita untuk membicarakan apa yang kita inginkan
Here's what we've got
Di sinilah apa yang sudah kita dapatkan
Before it's all gone
Sebelum itu semua pergi
'Cause no one will promise tomorrow
Karena ak satupun yang menjanjikan di hari esok
So, I'm gonna love you like I'm gonna lose you,
Jadi, aku akan mencintaimu seolah aku akan kehilanganmu
I'm gonna hold you like I'm saying goodbye
Aku akan mendekapmu seolah aku berkata selamat tinggal
Forever will stay in, I won't take you for granted
Selamanya akan tetap begitu, Aku tak bisa mengabaikanmu begitu saja
'Cause we'll never know it when we'll run out of time
Karena kita tak akan pernah kapan kita kehabisan waktu
So, I'm gonna love you like I'm gonna lose you,
Jadi, aku akan mencintaimu seolah aku akan kehilanganmu
I'm gonna love you like I'm gonna lose you
Aku akan mencintaimu seolah aku akan kehilanganmu

I'm gonna love you like I'm gonna lose you,
Aku akan mencintaimu seolah aku akan kehilanganmu
I'm gonna hold you like I'm saying goodbye
Aku akan mendekapmu seolah aku berkata selamat tinggal
Forever will stay in, I won't take you for granted
Selamanya akan tetap begitu, Aku tak bisa mengabaikanmu begitu saja
'Cause we'll never know it when we'll run out of time
Karena kita tak akan pernah kapan kita kehabisan waktu
So, I'm gonna love you like I'm gonna lose you,
Jadi, aku akan mencintaimu seolah aku akan kehilanganmu
I'm gonna love you like I'm gonna lose you
Aku akan mencintaimu seolah aku akan kehilanganmu


Lagu One Day - Arash Feat Helena 


[Helena]
I can see morning in light
Aku bisa melihat pagi berselimut cahaya

[Arash]
Saboori
Sabarlah
Kono' dur besho az gham
Kulihat masa depan yang cerah untukmu
Be fardat omidvaram
Aku masih sayang padamu
Hava to hanooz az dur daram
Meski diriku jauh darimu

[Helena]
One day I'm gonna fly away
Suatu saat aku akan terbang jauh
One day when heaven calls my name
Suatu saat ketika langit memanggil namaku
I lay down I close my eyes at night
Aku berbaring, kupejamkan mataku di saat malam
I can see morning in light
Bisa kulihat pagi berselimut cahaya
One day I'm gonna fly away
Suatu saat aku akan terbang jauh
One day I'll see your eyes again
Suatu saat aku akan melihat matamu lagi
I lay down I close my eyes at night
Aku berbaring, kupejamkan mataku di saat malam
I can see morning in light
Bisa kulihat pagi berselimut cahaya

Morning in light
Pagi berselimut cahaya

[Arash]
Dele man hanoozam pishet gire
Aku masih cinta padamu
Nagoo ke dige dire
Jangan katakan sudah terlambat bagiku
Joodaei ye rooz az
Suatu saat perpisahan ini
Beyn mire
Akan berakhir

[Helena]
One day I'm gonna fly away
Suatu saat aku akan terbang jauh
One day when heaven calls my name
Suatu saat ketika langit memanggil namaku
I lay down I close my eyes at night
Aku berbaring, kupejamkan mataku di saat malam
I can see morning in light
Bisa kulihat pagi berselimut cahaya
One day I'm gonna fly away
Suatu saat aku akan terbang jauh
One day I'll see your eyes again
Suatu saat aku akan melihat matamu lagi
I lay down I close my eyes at night
Aku berbaring, kupejamkan mataku di saat malam
I can see morning in light
Bisa kulihat pagi berselimut cahaya

[Arash]
Bitabe bitabam
Aku gelisah
Bi to
Tanpa dirimu
Bitabe bitabam
Aku sangat gelisah
Bi to
Tanpa dirimu
Harja ke basham bazam
Ke manapun aku pergi
Man duset daram!
Aku akan selalu mencintaimu

[Helena]
One day I'm gonna fly away
Suatu saat aku akan terbang jauh
One day when heaven calls my name
Suatu saat ketika langit memanggil namaku
I lay down I close my eyes at night
Aku berbaring, kupejamkan mataku di saat malam
I can see morning in light
Bisa kulihat pagi berselimut cahaya
One day I'm gonna fly away
Suatu saat aku akan terbang jauh
One day I'll see your eyes again
Suatu saat aku akan melihat matamu lagi
I lay down I close my eyes at night
Aku berbaring, kupejamkan mataku di saat malam
I can see morning in light
Bisa kulihat pagi berselimut cahaya


Sumber Dari: http://lirik-lagu-terjemahan-7.blogspot.co.id/2015/05/one-day-arash-feat-helena.html#ixzz3miYrqNMo
Selasa, 22 September 2015 0 komentar By: Unknown
Misteri Bangku Kereta Api Nomor 13
Perjalanan jauh dengan kereta merupakan sebuah perjalanan yang penuh dengan petualangan. Banyak hal yang bisa kita dapat dari perjalanan jauh ini. Seperti halnya kisah perjalananku selama dua hari satu malam dengan Kereta Bima, Jakarta-Surabaya. Perjalanan kali ini, seperti halnya perjalana-perjalanan sebelumnya, tak pernah kusia-siakan hanya dengan melihat-lihat pemandangan lewat jendela ataupun tertidur sepenjang perjalanan. Ada suatu hal yang biasa kulakukan untuk mengisi perjalanan dengan kereta api yaitu dengan “mengobrol”. Mengobrol merupakan cara yang ampuh untuk mengusir rasa bosan dan juga baik untuk kesehatan terutama otot-otot muka guna menjaga keremajaan kulit dan elastisitasnya. Mengobrol hanya membutuhkan sedikit energi dengan sedikit cemilan dan sebotol softdrink lengkap sudah fasilitas untuk memulai suatu obrolan.
Sudah tiga puluh menit berlalu semenjak aku terduduk sendiri di bangku nomor 14 gerbong ketiga. Kulihat bangku nomor 15 yang terletak disebelahku belum juga terisi penumpang dan juga bangku nomor 13 dan 12 yang terletak di hadapanku kosong sama sekali. “Kalo begini gimana aku bisa dapat teman ngobrol?”.
“Ting…teng…ting…teng…lima menit lagi Kereta Bima akan segera diberangkatkan”, begitu bunyi pengumuman dan petugas stasiun. Kereta mulai penuh oleh para penumpang. Semua bangku telah terisi kecuali tiga buah bangku yang ada di dekatku, tak juga ada yang menempati. Sudah empat puluh menit aku menunggu teman seperjalananku, namun mungkin takdir berkata lain. Di perjalanan kereta kali ini, mungkin akan kulewatkan dengan tidur atau melihat-lihat pemandangan saja.
“Huaaaah…!!”, suasana ini membuatku mengantuk, mataku mulai berkaca-kaca. Tak terasa aku pun terlelap untuk beberapa waktu. “Roooeng…!!!”, “Hah, bunyi apa itu…?”, aku tersentak, dan bangun dari tidurku. Oh rupanya bunyi yang melengking itu hanyalah bunyi pertanda kereta akan segera diberangkatkan. Kereta pun mulai berangkat. “Huaaah…!!”, lagi-lagi meliuk-liukkan tubuhku, mencoba melemaskan semua otot-otot yang tadi kaku karena kugunakan tidur dalam keadaan duduk. Kini ngantukku serasa hilang dalam sekejap oleh getaran-getaran berirama yang ditimbulkan oleh roda-roda kereta. Kuperhatikan sekelilingku, nampaknya bangku nomor 12 dan 13 yang ada dihadapanku serta bangku nomor 15 yang terletak di sampingku memang tak ada yang menempatinya. Atau memang tak ada yang mau mendudukinya? Ah masa bodoh…
Tiba-tiba seorang wanita muda dengan tergesa-gesa berjalan sambil menyeret sebuah koper yang tampaknya cukup berat menuju ke arahku. Dia tampaknya butuh pertolongan. Pak kondektur pun menghampirinya. “Anda butuh pertolongan Nyonya?”, tegurnya dengan sopan. “Iya Pak, tolong saya Pak!”, ujar nyonya itu dengan nada setengah panik. “Maaf nyonya, bisa tolong tunjukkan tiket anda?”, ujar sang kondektur. “Ini pak, saya duduk di bangku nomor 13”, jawabnya dengan nafas terengah-engah. “Oh bangku nomor 13 ada di sebelah sini nyonya. Silahkan, anda bisa duduk dan tenangkan diri anda terlebih dahulu”, ujarku memotong pembicaraan mereka.
“Pak kondektur..anak saya pak…anak saya hilang di kereta ini”, ujar nyonya itu yang tampaknya tak menghiraukan perkataanku.
Pak kondektur pun berkata lagi pada nyonya itu dengan lembut “Nyonya, anda bisa duduk dulu di bangku dan ceritakan semua kejadiannya pada kami.”
Mendengar hal itu kemudian si nyonya pun akhirnya duduk dan kemudian mulai mencoba menenangkan diri. Setelah merasa cukup tenang ia pun bercerita “Begini Pak Kondektur, aku naik ke kereta ini bersama anak laki-lakiku yang bernama Andi. Ketika kami tiba di stasiun, kereta hampir saja berangkat. Karena takut ketinggalan kereta aku pun menaikkan Andi terlebih dahulu kemudian aku turun lagi untuk membawa koper yang kutitipkan pada seorang penjual makanan yang menunggu di depan pintu masuk gerbong lima kereta ini. Sementara itu Andi ku suruh mencari tempat duduk nomor 13 dan 14 yang telah kami pesan. Saat itu para penumpang masuk secara berdesakkan, mungkin mereka juga tak ingin ketinggalan kereta. Bahkan ketika aku ingin masuk, hampir saja aku terdorong keluar oleh penumpang lain yang juga turut berdesak-desakkan. Dan sesampainya di dalam kereta aku mencari-cari Andi dan tidak menemukannya.”
“Oh begitu”, ujar kondektur manggut-manggut. “Ehm begini saja nyonya. Sekarang saya akan mencari anak nyonya dan nyonya silahkan tunggu di sini. Oh ya apakah nyonya yakin kalau anak nyonya sudah masuk ke dalam kereta ini?”, Tanya pak kondektur.
“Saya yakin pak. Anak saya tak mungkin keluar lagi, karena ketika kami masuk, para penumpang yang lain juga masuk bahkan hingga berdesak-desakkan sehingga tak mungkin ia bisa keluar.”, jelas nyonya itu.
“Oh ya, bagaimana ciri-ciri anak nyonya?”
“Hmm…anak saya memakai baju kemeja warna biru laut dan celana pendek warna hitam. Umurnya 10 tahun dan tingginya sekitar 150 cm. Ia berkaca mata dan rambutnya hitam lurus.”, jawab nyonya itu.
“Ya…cukup jelas, kami pasti menemukannya”, ujar sang kondektur meyakinkan nyonya itu.
Lima menit telah berlalu, namun si kondektur tadi tak juga kembali. Nyonya itu nampak masih gelisah sejak tadi, wajahnya memerah dipenuhi sejuta penyesalan.
“Maaf nyonya, mau permen?”, ujarku seraya menyodorkan lima bungkus permen cokelat yang tadi kubeli dari pedagang kaki lima.
“Hmm maaf…terima kasih”, ujarnya menolak.
“Tenang saja nyonya, tak perlu terlalu gelisah. Anak nyonya pasti ditemukan, mungkin saja dia tadi bingung dan tersesat di gerbong lain. Kereta ini kan hanya terdiri dari beberapa gerbong dan anak nyonya tak mungkin akan jauh-jauh pula dari sini’, ujarku mencoba menenangkannya.
“Oh ya, tujuan nyonya mau kemana?”
“Hmm….saya mau ke Surabaya, ke rumah kakak ipar saya untuk mengabarkan suatu hal”, jawab nyonya itu.
“Lalu suami anda…?”
“Dia baru saja wafat tiga hari yang lalu”
“Oh maaf nyonya…ehm saya turut berduka cita atas wafatnya suami nyonya.”
Waktu pun telah berlalu dua jam lamanya. Hari kini mulai beranjak sore, kereta api delapan gerbong yang kini kunaiki mulai menembus senja. Obrolanku dengan nyonya ini semakin menarik saja, dan nampaknya si nyonya mulai melupakan anaknya yang belum juga ditemukan.
Saat ini aku mulai tahu banyak tentang nyonya itu. Ternyata yang duduk di bangku nomor 12 adalah anaknya dan yang duduk di bangku nomor 15 yang ada disebelahku adalah suaminya yang kini telah wafat semenjak tiga hari yang lalu. Suaminya adalah seorang polisi lokal. Ia wafat karena tertembak ketika terjadi baku tembak dengan para perampok bank tiga hari yang lalu. Semula mereka bertiga memang hendak liburan ke rumah Nenek anak semata wayangnya di Surabaya. Kematian sang Ayah pada mulanya membuat rencana kepergian Si Nyonya dibatalkan. Namun karena si Nyonya kemudian mendapat kabar bahwa ibundanya di kampung halaman sedang sakit keras, dan dengan pertimbangan tiket yang sudah dipesan, jadilah mereka berdua memaksakan diri pergi ke Surabaya meskipun masih dalam suasana duka.
“Maaf nyonya apa makanan favoritmu?”, tanyaku.
“Hm…aku amat menyukai cokelat, suamiku dan anakku juga menyukainya. Cokelat sudah lama menjadi makanan favorit keluarga kami.”, jawabnya. “Kalau anda Tuan?”
“Hmm…aku juga suka cokelat, tapi terkadang aku juga suka permen dan juga kembang gula. Pokoknya semua makanan yang manis-manis aku menyukainya.”, jawabku.
Tiba-tiba si nyonya itu mengeluarkan sebuah kotak dari tas kecil yang diipangkunya. Dan ia membuka kotak itu. Ternyata isinya adalah cokelat.
“Anda mau cokelat, Tuan?”, ujarnya seraya menyodorkan kotak itu ke arahku.
Aku pun mengambil tiga bungkus cokelat dari kotak itu. “Hmm…terima kasih nyonya.”, ucapku seraya menaruh dua bungkus cokelat ke dalam saku kemejaku. Sementara yang sebungkus lagi kubuka dan kumasukkan ke dalam mulutku.
“Bagaimana rasanya, Tuan?”, Tanya nyonya itu.
“Hmm…sangat enak.”, jaawabku.
Nyonya itu cukup menarik untuk dijadikan teman ngobrol. Setelah sekian lama mengobrol tampaknya aku mulai suka padanya. Wanita itu lumayan cantik, wajahnya sangat ayu dengan bibirnya yang manis. Matanya juga indah. Rambutnya tergerai lurus sepinggang. Lama-lama aku merasa tertarik kepadanya. Hatiku mulai bertanya-tanya “Apakah aku telah jatuh cinta?’
Dalam sekejap kami menjadi lebih akrab. Rupanya si nyonya itu juga suka mengobrol sepertiku. Kami pun melanjutkan obrolan kami hingga lupa waktu.
Sejam kemudian. Pak kondektur datang mengantarkan seorang anak berambut lurus dan berkaca mata. “Oh anakku!”, si nyonya sejenak tersentak melihat anaknya, lalu memeluknya sambil menetesakan air mata. Ia baru ingat bahwa anaknya telah hilang di kereta beberapa jam yang lalu. Dengan perasaan bersalah ia pun memeluk anaknya erat-erat sambil menangis.
Aku dan pak kondektur hanya bisa memandang kedua anak dan ibu itu sambil tersenyum lega. Setelah itu si nyonya itu pun kemudian berterima kasih kepada pak kondektur.
“Maaf nyonya kami terlalu lama menemukan anak anda. Tampaknya anak anda tersesat di kereta ini dan kelelahan, lalu ia pun tertidur di dekat tumpukkan barang di pojok gerbong delapan. Tadinya kami tak mengira anak itu bersembunyi di sana. Namun, setelah kami berpikir bahwa tak ada salahnya memeriksa tumpukkan barang kami pun memeriksanya dan berhasil menemukan anak nyonya ini.”, jelas pak kondektur.
‘Tak apa-apa pak kondektur, yang penting saat ini anakku sudah di temukan. Terima kasih….pak…saya ucapkan beribu-ribu terima kasih.”, ujar nyonya itu.
“Tak apa nyonya, itu memang sudah tugas kami.”, ujar pak kondektur.
Tak lama kemudian suasana pun kembali tenang. Sang anak sudah duduk di bangkunya dan si nyonya kembali melanjutkan obrolannya denganku. Kami pun mengobrol cukup lama dan kuperhatikan, selama kami mengobrol, anak nyonya itu menatapku tajam ke arahku. Aku jadi sedikit salah tingkah.
Anak nyonya itu tampaknya tak suka kepadaku. Ia lalu menarik-narik ibunya dan membisikkan sesuatu ke telinga ibunya. Si nyonya manggut-manggut lalu berbicara lirih kepadaku “Tampaknya anakku tidak terlalu menyukaimu, maaf ya, harap di maklumi karena anakku baru saja kehilangan ayahnya. Jadi, ia tak begitu suka kalau ada lelaki lain yang mendekatiku.”
Aku pun manggut-manggut seraya mengerti apa yang dimaksud si nyonya itu. Aku pun bisa memahami perasaan mereka. “Hmmm….baiklah kalau begitu aku mohon diri sejenak, rasanya ingin aku berjalan-jalan ke gerbong lain. Lagi pula kakiku rasanya mulai kesemutan semenjak tadi duduk di bangku.”, ujarku pamit untuk pergi sejenak.
Sambil berjalan santai aku pun menelusuri gerbong-gerbong kereta sampai di ujung gerbong ke delapan yang terletak paling ujung, aku duduk di sebuah bangku kosong yang terletak di depan bagasi tempat barang-barang. Bangku-bangku di gerbong delapan nampaknya banyak yang kosong. Aku kemudian menatap keluar jendela sambil memandang bulan purnama yang membumbung tinggi di luar sana.
Tak terasa tiga puluh menit berlalu dengan cepatnya. Aku bangkit dari tempat duduk dan berjalan menuju bangku nomor 14, tempat dudukku yang semula, “Mungkin si anak tadi sudah lelap tertidur dan aku pun bisa ngobrol lagi dengan si nyonya tadi.”, pikirku.
Namun, sesampainya di bangkuku, yang ada hanya anak tadi yang masih terjaga. Kemudian aku pun duduk, dan memberanikan diri bertanya kepada anak itu. “Nak, dimana ibumu?”
“Mau apa kamu mencari-cari ibuku! Lagi pula apa urusanmu menanyakan dimana ia berada, toh kamu kan bukan ayahku!”, ucapnya kasar.
Hatiku bergetar mendengar perkataan anak kecil itu, sesaat aku menganggap anak ini kurang ajar, tapi mungkin ada benarnya juga. Walaupun aku suka kepada ibunya tapi kan ia sudah berkeluarga dan sulit bagi sebuah keluarga untuk dengan mudah kehilangan salah satu anggota keluarga yang dicintainya maupun dimasuki oleh orang yang baru mereka kenal. Aku dan anak itu pun terdiam beberapa lama kemudian anak itu tertidur pulas. Aku pun mulai mengantuk karena semenjak tadi hanya diam mengunci mulut. Akhirnya aku pun memejamkan mata dan tertidur pulas.
Beberapa saat kemudian terdengar lagi olehku deru roda-roda kereta yang berirama. Aku pun mulai membuka mataku lagi. Namun, kini di hadapanku duduk seorang pria gagah yang mengenakan sebuah kemeja putih dan bercelana cokelat. Rambutnya tampak klimis dan dia juga tampak lebih arif dengan kacamatanya. Aku mulai bingung, bukankah yang tadi duduk di hadapanku ini seorang nyonya dan anaknya. “Ah mungkin saja aku sedang bermimpi.”, batinku.
Aku pun berkenalan dengan pria itu, namanya Andi. Persis seperti nama anak kecil yang kutemui dalam mimpiku tadi. Dan kami pun mengobrol tentang segala hal. Andi mulai terbawa pembicaraan. Begitu pula denganku. Kami saling berbagi pengalaman, berbagi cerita dan juga berbagi alamat dan nomor telepon.
“Oh ya, Tuan. Maukah engkau kuceritakan sebuah kisah menarik saat aku berumur 10 tahun?”, Tanya Andi. “Oh tentu saja.”, jawabku. “Baiklah, akan kuceritakan.”, Andi pun bercerita tentang pengalamannya ketika ia berusia 10 tahun. Ketika itu ia tersesat di gerbong kereta dan tidur di bagasi barang. Dan saat ditemukan dan di bawa oleh kondektur menemui ibunya, ia mendapati ibunya sedang asyik mengobrol dengan seorang pria yang tak ia kenal dan ia pun akhirnya merasa cemburu karena belum lama ayahnya meninggal. Ia tak ingin punya ayah yang baru karena ia amat mencintai ayahnya. Andi menyuruh ibunya agar berhenti ngobrol dengan lelaki itu dan menyuruhnya pergi. Lalu sesudah lelaki itu pergi, Andi bertengkar dengan ibunya sehingga ibunya kesal dan akhirnya pergi untuk pindah gerbong. Ketika ibunya telah pergi, lelaki yang semenjak tadi mengobrol dengan ibunya datang kembali dan menanyakan tentang keberadaan ibunya. Adi menjawab dengan nada ketus “Mau apa kamu mencari-cari ibuku! Lagi pula apa urusanmu menanyakan di mana ia berada, toh kamu kan bukan ayahku!”
“Aku merasa bersalah dengan perbuatanku terhadap lelaki itu dan ingin rasanya aku memohon maaf atas sikap kasarku dulu kepadanya.”, Andi menutup ceritanya.
“Lalu dimana ibumu saat ini?”, tanyaku.
“Ibuku pindah gerbong dan ternyata ia pindah ke gerbong belakang. Beberapa saat setelah aku tertidur aku merasa aneh dan beranjak dari tempat dudukku. Tiba-tiba terjadi tabrakan antara kereta yang kutumpangi dengan kereta lain. Saat itu aku berada di gerbong tiga dan selamat sedangkan ibuku rupanya tewas karena ia pindah ke gerbong belakang yang hancur akibat tabrakan itu. Aku amat menyesal seandainya saja aku membiarkan ibuku tetap mengobrol dengan pria itu mungkin ibuku tak akan pindah gerbong dan menyusul ayahku ke alam baka.”, Andi menjelaskan panjang lebar untuk kesekian kalinya.
“Oh, aku turut bersedih atas pengalamanmu yang amat menyedihkan.”, ujarku bersimpati. Dalam hati aku berfikir mungkinkah aku melenggang ke masa lalu selama aku tertidur, ataukah mimpi itu hanya kebetulan saja.
“Hmm…boleh aku tanya sesuatu?”, tanyaku.
“Oh ya, silahkan.”, jawab Andi.
“Hmm…aku ingin tahu, saat kau terbangun….sebelum kecelakaan itu..kau tahu dimana pria yang duduk dihadapanmu?”, tanyaku lagi.
“Kurasa ia pergi ke gerbong lain saat aku tertidur, yang jelas aku tidak menemukannya saat aku terbangun.”
Seribu satu tanda tanya mulai memusar di dadaku. Apakah benar pria yang ada di masa lalu itu adalah aku? Sesaat aku masih ingat senyuman nyonya yang tadi duduk di bangku nomor 13 dan mengobrol denganku sambil menunggu anaknya ditemukan hatiku mulai gundah, tak mungkin ini suatu kebetulan…tapi bagaimana bisa?
“Maaf, Tuan. Apa kau suka berjalan-jalan dengan kereta?”, Andi tiba-tiba memotong lamunanku.
“Oh…eh…iya…tentu saja…”, jawabku gugup.
“Selama hidupku aku merasa dihantui perasaan bersalah terhadap pria yang kucaci maki 10 tahun lalu. Setiap aku bepergian naik kereta aku selalu memesan bangku nomor 13 tempat dahulu ibuku duduk sebelum ia pergi untuk selama-lamanya. Dan aku juga selalu menceritakan kisah ini kepada setiap orang yang duduk di bangku nomor 12, 14 dan 15. aku juga selalu berpesan kepada semua orang yang kuceritakan tentang kisah ini untuk menyampaikan permohonan maafku yang sebesar-besarnya untuk pria yang 10 tahun lalu kucaci maki. Ibu dan ayahku di sana pasti tak suka memaafkanku jikalau permohonan maaf ini tak sampai kepada pria itu. Maukah Tuan membantuku?”, pinta Andi.
“Baiklah aku akan membantumu. Dan aku yakin pria itu pasti sudah memaafkanmu, karena dulu umurmu kan masih 10 tahun.”, ujarku menghibur Andi.
“Saat ini pasti pria itu sudah berumur sekitar 40 tahun dan mungkin dia sudah punya istri dan anak.”, ujar Andi.
Kereta pun terus melaju, hingga akhirnya tiba di kota Surabaya. Aku dan Andi pun turun di salah satu stasiun di Kota Pahlawan itu. Dari sana kami berpisah menuju ke tempat tujuan kami masing-masing. Walaupun kami sudah berpisah masih saja aku memikirkan serentetan peristiwa yang kutemui di kereta tadi. Semenjak saat itu aku pun mulai berjanji, aku tak akan banyak ngobrol selama perjalanan dengan kereta. Aku juga nggak bakal lagi-lagi tertidur di bangku kereta. Mungkin aku bisa mengusir kebosanan dalam perjalanan dengan membaca-baca buku sambil minum kopi, atau melihat-lihat pemandangan sepanjang perjalanan.
Tapi “Ops…!”, tak kusadari kedua ikatan tali sepatuku terlepas, aku pun berjongkok untuk menalikannya kembali. Namun saat aku berjongkok, “Pluk…!!”, dua bungkus cokelat jatuh dari sakuku. Aku mulai berfikir dari mana cokelat-cokelat ini, aku merasa tak pernah membeli cokelat sepanjang perjalanan. “Ah….aneh-aneh saja yang terjadi hari ini.”